Sudah, Cukup Euforianya.


Halo semeton, akhir-akhir ini, nama Lombok Tengah sudah mulai "ter-nasionalkan" setelah lintasan balapan "yang katanya" sudah rampung, walaupun sebenarnya masih banyak orang yang belum tau kalau "lintasan" tersebut belum 100% rampung baik dari infrastruktur maupun manusianya (tenaga teknis).

Makanya tadi siang balapan di cancel, akibat tenaga teknis "marshall" yang kurang memadai. Buat temen-temen yang belum tau apa itu marshall, marshall itu sebuah istilah sebutan untuk petugas yang mengawasi suatu balapan dan berada di pinggir jalan. 

Marshall juga memiliki banyak sebutan lain, ada juga yang menyebut dengan course workers, corner workers, cornor crew, turn marshall, dan track safety workers. Sesuai dari namanya, saya yakin temen-temen sudah memahami betapa krusial tugas dari seorang marshall, mereka harus siap siaga setiap saat mengawasi lintasan dan pembalap agar race berjalan sesuai dengan harapan.

Oke cukup-cukup, tulisan saya bukan berfokus ke sini. 

Melainkan berfokus kepada sebuah pertanyaan yang hampir setiap saat membayangi otak saya, yaitu "Apakah lintasan itu dapat mendongkrak perekonomian dan kesejahteraan masyarakat, terlebih dan terkhusus pribumi Lombok Tengah?".

Ya "Pribumi", sebuah sebutan bagi masyarakat penduduk asli dari suatu daerah, dan kata pribumi lahir dari mulut kolonial Belanda untuk rakyat Indonesia kala itu. Tidak ada masalah dengan hal ini, saya sangat bangga menjadi Pribumi. Namun tahukah temen-teman kata Pribumi identik dengan "kaum yang dijajah". 

Yaps, dunia sudah berubah, namun bukan berarti perperangan sudah selesai. Dulu berperang dengan senjata dan fisik, sekarang berperang dengan kekuatan otak dan uang.

Dulu mereka datang membawa senjata dan menodong, menjarah tanah nenek moyang kita, memaksakannya bekerja siang malam tanpa istirahat dan upah. Maka dikenal dengan istilah Kerja Paksa dan Kerja Rodi.

Sekarang sudah tidak lagi, perperangan sudah mulai halus dan lembut, kini bermodal kekuatan uang dan otak, suatu negara bisa memiliki tanah di negara lain tanpa terlihat menyeramkan dan membabi buta seperti dulu para pahlawan kita rasakan.

Perperangan belum selesai semeton, persaingan dunia kerja semakin sulit, Bule-bule tidak hanya datang berlibur melainkan bekerja ditanah kita sendiri, buanglah Ego itu sedikit saja, cukup euforianya, itu adalah tidak lain hanyalah bisnis, meraka yang punya, bukan Bupati apalagi ite pade. 

Bupati pun ndekn tetenak befoto pasn pengesahan sirkuit. Yang belum tau, silak baca berintanya. 

IT's BUSINESS!!! Ndekn yak mungkin epen pite amak kangkung jari pegawen, tentu en pite yak berkualitas, nah nani wah siepm? ite pade awah siep? 

Eh kamu sok Tau, kamu nggak nyadar apa, kalau ada lintasan itu banyak Bule-bule yang datang beli kerajinan Kita.!!!

Setuju, setuju sekali bro, cuman nih, enggak semua warga Lombok Tengah jadi penenun. 

Nah ini nih, permasalahannya disini, mau sampai kapan jual hasil tenun? 

Inti dari tulisan ini adalah, sudah, cukup eforianya. Perperangan belum selesai. :)

0 Response to "Sudah, Cukup Euforianya. "

Post a Comment

Bagaimana tanggapan Anda mengenai ulasan di atas?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel