Akar Permasalahan Negara adalah Guru


Selamat hari guru, untuk semua guru. Dan tak lupa juga "terkhusus" selamat hari guru untuk guruku yang pernah menendang pantatku hingga aku tersungkur ke lantai, berkat tendanganmu kini aku menjadi guru, terima kasih. Sebuah pengalaman 14 tahun yang lalu, yang akan membekas, dan akan aku ceritakan kelak ke anak-anakku.

Selamat hari guru, untuk semua Guru Honorer yang mendapat gaji 700rb/4 Bulan. Keikhlasanmu tiada tanding, walaupun terkadang keikhlasanmu taksebanding dengan gajimu. Entah kesejahteraan itu kapan waktunya terwujud, atau hanya sebuah "penjelas" atas pernyataan "pahlawan tanpa tanda jasa".

Aku mendambakan sosok Kaisar Hirohito, yang paham betul betapa pentingnya "guru". Yang melihat sosok guru seperti melihat harapan yang menjanjikan bagi negaranya. Bom nuklir meluluhlantahkan negara dan rakyatnya:

"Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi kita tidak tahu bagaimana mencetak bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa belajar bagaimana kita akan mengejar mereka?" Jawaban tegas dari kaisar Hirohito atas pernyataan para jendral yang menganggap mampu melindungi kaisar tanpa adanya guru.

Siapa sangka, Jepang menjadi negara maju dan bangkit hanya dalam kurun waktu 20 tahun, 50 tahun lebih cepat dari prediksi dunia. Dan kini hampir 80% kendaraan yang kita gunakan dari negara mereka. Negara yang luasnya tak sebesar Pulau Sumatera.

Bukan karena kini profesiku guru menjadikan aku membela guru, bahkan dengan tegas aku menyatakan Akar Pemasalahan Negara adalah Guru

Yap, korupsi yang kini sudah menjati diri, jual beli jabatan yang kini menjadi budaya kearifan, pencurian, pembunuhan, perampokan, tauran, penggunaan narkoba dikalangan anak muda, pernikahan dini, seks bebas, pesta miras, hilangnya etika, semua permasalahan negara adalah tidak lain karena Guru.

Bagaimana itu semua bisa terjadi?

Jawabannya adalah, di Singapura guru sudah tidak memikirkan apa ia masak untuk suami dan anak-anaknya, di Malaysia guru sudah tidak memikirkan suara kedip dari meteran listrik yang tak terbayarkan, di Brunei guru tak harus terbang ke sini kemari untuk mendapatkan upah tambahan.

Kesejahteran diri dan keluarganya terjamin dan telindungi oleh negara.

Sedangkan di negara kita?

Selamat Hari Guru untuk Guru Indonesia yang "ke-selamat-annya" belum selamat.

0 Response to "Akar Permasalahan Negara adalah Guru"

Post a Comment

Bagaimana tanggapan Anda mengenai ulasan di atas?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel