Peran Milenial dalam Mewujudkan SDGs (Sustainable Development Goals) Yang Perlu Kamu Ketahui


Hay sobat, apa kabar? semoga hari ini baik-baik saja yaa. Akhir-akhir ini pernah tidak sobat mendengarkan kata SDGs?, kalau belum pernah ayo kita bahas di sini, atau mungkin diantara sobat ada yang sudah tau?, tidak apa-apa kan kalau kita membahas kembali. Kalau setuju, yuk lanjut....

Betul sobat, SDGs atau Sustainable Development Goals yang dalam Bahasa Indonesia diartikan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan akhir-akhir ini banyak diperbincangkan. Memang SDGs itu apa sih?. Jadi bagi sobat yang belum tau SDGs merupakan sebuah agenda besar dunia yang berisikan 17 tujuan dengan 169 capaian yang terukur sebagai agenda pembangunan dunia demi terciptanya kemaslahatan bumi kita tercinta ini. 

SDGs dirancang secara bersama-sama oleh negara-negara lintas pemerintahan PBB yang diterbitkan pada tanggal 21 Oktober 2015 sebagai ambisi pembangunan bersama hingga tahun 2030. Tujuan ini merupakan kelanjutan atau pengganti dari Tujuan Pembangunan Milenium / Millennium Development Goals (MDGs) yang ditandatangani oleh pemimpin-pemimpin dari 189 negara sebagai Deklarasi Milenium di markas besar PBB pada tahun 2000 dan tidak berlaku lagi sejak akhir 2015.
Agenda pembangunan berkelanjutan yang baru-baru ini dibuat untuk menjawab tuntutan kepemimpinan dunia dalam mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan perubahan iklim. Konsep Tujuan Pembangunan Berkelanjutan lahir pada Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB pada Juni 2012 dengan menetapkan rangkaian target yang bisa diaplikasikan secara universal serta dapat diukur dalam menyeimbangkan tiga dimensi pembangunan berkelanjutan; (1) lingkungan, (2) sosial, dan (3) ekonomi.

Untuk mengubah tuntutan ini menjadi aksi nyata, para pemimpin dunia bertemu pada 25 September 2015, di Markas PBB di New York untuk memulai Agenda Pembangunan Berkelanjutan 2030.

Tujuan ini diformulasikan sejak 19 Juli 2014 dan diajukan pada Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa oleh Kelompok Kerja Terbuka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Dalam proposal ini terdapat 17 tujuan dengan 169 capaian yang meliputi masalah masalah pembangunan yang berkelanjutan. Termasuk didalamnya adalah pengentasan kemiskinan dan kelaparan, perbaikan kesehatan, dan pendidikan, pembangunan kota yang lebih berkelanjutan, mengatasi perubahan iklim, serta melindungi hutan dan laut.


Pada bulan Agustus 2015, 193 negara menyepakati 17 tujuan berikut ini:
  • 1. Tanpa kemiskinan: pengentasan segala bentuk kemiskinan di semua tempat.
  • 2. Tanpa kelaparan: mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi, serta menggalakkan pertanian yang berkelanjutan.
  • 3. Kehidupan sehat dan sejahtera: menggalakkan hidup sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua usia.
  • 4. Pendidikan berkualitas: memastikan pendidikan berkualitas yang layak dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup bagi semua orang.
  • 5. Kesetaraan gender: mencapai kesetaraan gender dan memberdayakan semua perempuan.
  • 6. Air bersih dan sanitasi layak: menjamin akses atas air dan sanitasi untuk semua.
  • 7. Energi bersih dan terjangkau: memastikan akses pada energi yang terjangkau, bisa diandalkan, berkelanjutan dan modern untuk semua.
  • 8. Pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi: mempromosikan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan inklusif, lapangan pekerjaan dan pekerjaan yang layak untuk semua.
  • 9. Industri, inovasi dan infrastruktur: membangun infrastruktur kuat, mempromosikan industrialisasi berkelanjutan dan mendorong inovasi. 
  • 10. Berkurangnya kesenjangan: mengurangi kesenjangan di dalam dan di antara negara-negara.
  • 11. Kota dan komunitas berkelanjutan: membuat perkotaan menjadi inklusif, aman, kuat, dan berkelanjutan.
  • 12. Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab: memastikan pola konsumsi dan produksi yang berkelanjutan.
  • 13. Penanganan perubahan iklim: mengambil langkah penting untuk melawan perubahan iklim dan dampaknya.
  • 14. Ekosistem laut: pelindungan dan penggunaan samudera, laut dan sumber daya kelautan secara berkelanjutan.
  • 15. Ekosistem daratan: mengelola hutan secara berkelanjutan, melawan perubahan lahan menjadi gurun, menghentikan dan merehabilitasi kerusakan lahan, menghentikan kepunahan keanekaragaman hayati. 
  • 16. Perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh: mendorong masyarakat adil, damai, dan inklusif.
  • 17. Kemitraan untuk mencapai tujuan: menghidupkan kembali kemitraan global demi pembangunan berkelanjutan.
Tau tidak sobat kalau negara Indonesia (negara kita tercinta) ini juga ikut lo dalam memformulasikan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan di atas. Oleh sebab itu untuk mewujudkan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 59 tahun 2017 tentang Pelaksanaan Pencapaian SDGs sebagai bukti bahwa negara kita juga ikut berperan aktif dalam menyukseskannya.

Dalam PP tersebut menggambarkan bahwa adanya komitmen negara kita dalam pelaksanaan pencapaian Tujuan Pembangunan Bersama / Sustainable Development Goals (SDGs). Komitmen tersebut diimplementasikan pemerintah melalui penyesuaian dengan Pembangunan Jangka Panjang Nasional dan Pembangunan Jangka Menengah Nasional dan adanya keterlibatan semua pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, akademisi, filantropi, dan pelaku usaha untuk bersama-sama menyukseskan Tujuan Pembangunan Bersama / Sustainable Development Goals (SDGs).

Saya dan sobat pasti sudah tau, kalau negara kita menduduki peringkat 4 sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia. Menurut Badan Statistik Nasional jumlah penduduk negara kita kurang lebih mencapai 267 juta jiwa. Dari jumlah penduduk tersebut, sebagian besar merupakan penduduk dengan usia produktif (usia 15 - 64 tahun) yang mencapai 183,36 juta jiwa atau setara dengan 68,7% dari total penduduk Indonesia.


Keadaan inilah yang di dalam istilah ekonomi kependudukan disebut dengan jendela demografi (the demografhic window of opportunity) yang berdampak pada salah satu dari dua kemungkinan yaitu bonus demografi (demografhic devidend) atau justru sebagai kutukan demografi (demografhic disease).

Jendela demografi dapat menjadi bonus demografi apabila profil penduduk Indonesia berkualitas, sehingga merupakan potensi bagi negara untuk melakukan akselerasi ekonomi dengan menggenjot industri manufaktur, infrastruktur dan UMKM, karena berlimpahnya angkatan kerja.

Sebaliknya, jendela demografi dapat pula berubah menjadi petaka atau kutukan demografi, yang akan menghasilkan pengangguran massal dan menjadi beban negara, manakala negara tidak melakukan investasi sumberdaya manusia (human capital investment).

Tentu untuk menghadapi semuanya pemerintah telah melakukan segala cara untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia agar bonus demografi bisa dimanfaatkan dengan efektif. Misalkan pemerintah melalui Kemenkes mengadakan program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) sebagai usaha untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, atau melalui Kemendikbud dengan diadakannya perbaikan kurikulum yang bertujuan agar sumber daya manusia Indonesia lebih baik.

Sumber daya manusia yang baik akan memudahkan terwujudnya Tujuan Pembangunan Berkelanjutan / Sustainable Development Goals (SDGs).

Namun disisi lain, kalau kita enggan mengubah kebiasaan buruk kita dan apatis terhadap kebijakan pemerintah alias tidak ikut berpartisipasi membantu, tentu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan / Sustainable Development Goals (SDGs) sulit terwujud. Ada beberapa alasan yang disinyalir menjadi alasan mengapa generasi milenial diharapkan dapat membantu pemerintah mewujudkan tercapainya SDGs.

Pertama, generasi milenial adalah generasi yang memiliki kreativitas tinggi sehingga disinyalir mampu meciptakan inovasi-inovasi baru dalam kehidupan. Misalkan sedotan stainless steel yang akhir-akhirnya dipopulerkan oleh generasi milenial.

Kedua, generasi milenial adalah generasi yang melek dan paling paham mengenai teknologi yang pastinya memanfaatkan teknologi yang ada atau bahkan menciptakan teknologi baru.

Ketiga, generasi milenial disinyalir memiliki kepekaan sosial yang lebih tinggi, dan kepedulian pada lingkungan alam yang tentunya diharapkan agar kualitas manusia maupun alam menjadi lebih baik dari sebelumnya berkat dari inovasi baru yang diciptakan.

Itulah tiga alasan mengapa kita sebagai generasi milenial harus terlibat atau berperan dalam mewujudkan TPB/SDGs dan masih banyak lagi alasan-alasan lainnya.


Peran kita sebagai milenial apalagi sobat sebagai mahasiswa (agent of change) tentu sangat dibutuhkan oleh negara untuk bersama-sama menyukseskan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan / Sustainable Development Goals (SDGs). Lalu apa saja kiat-kiat kita dalam menyukseskan TBM/SDGs?

Oke sobat inilah beberapa peran kita sebagai generasi milineal dalam mewujudkan atau menyukseskan TBM/SDGs?

1. Membudayakan Literasi, sangat disayangkan memang namun kita harus menerimanya, kenyataan berkata bahwa budaya membaca di negara kita tergolong sangat rendah sekali, menurut hasil survey UNESCO pada tahun 2016, Indonesia menempati posisi 60 dari 61 negara yang disurvey. Nah, disinilah kita sebagai generasi milenial berperan dalam membudayakan membaca.

Tentu itu adalah hal yang tidak mudah, mulailah dari diri kita sendiri, kemudian saudara kita, keluarga kita, kemudian masyarakat.

Saya sendiri jujur dulu tidak menyukai membaca, namun saya paksakan agar tidak malas membaca dengan ikut lomba menulis, salah satunya lomba blog ini. Kemudian dulu saya juga sempat aktif mengelola salah satu blog yang lain yaitu www.MahasiswaNTB.com, namun karena kesibukan kuliah dan kerja membuat saya tidak mengurusnya lagi hingga domainnya sekarang sudah menjadi gratisan kembali alias blogspot.

Alasan saya membangun blog tersebut karena saya ingin sekali melihat IPM (Indeks Prestasi Manusia) NTB meningkat melalui membaca, oleh sebab itu di setiap tulisan saya di blog tersebut, tidak lupa saya mengajak pembaca untuk membudayakan literasi.

Itulah sedikit contoh kontribusi saya dalam mewujudkan tercapainya TPB/SDGs. Tentu saja, sobat memiliki cara sendiri untuk membudayakan literasi, jangan sampai budaya literasi hanya pada diri kita sendiri, kita  berperan dalam membudayakannya literasi ke orang lain dengan harapan kualitas SDM kita meningkat sehingga TPB/SDGs dapat terwujud dengan optimal.

2. Mengkampanyekan Hidup Sehat, hidup sehat sangatlah penting, memiliki kemampuan otak yang cerdas tentu tidak akan optimal tanpa ada dukungan dari badan yang sehat, oleh sebab itu kita sebagai generasi milenial agar senantiasa hidup sehat, misalkan menjauhi rokok, tidak minum alkohol, menjauhi narkoba, mengkonsumsi sayur dan buah, menghindari menatap layar gadget yang terlalu sering, selalu menyempatkan diri untuk olahraga, dan masih banyak lagi cara hidup sehat yang lainnya.

Mengkampanyekan hidup sehat juga salah satu peran kita dalam mewujudkan SDGs tercapai dengan baik di negara kita, tentu juga itu hal yang tidak mudah, perlunya paksaan pada diri agar membiasakan perilaku hidup sehat dan tidak pula lupa untuk mengajak saudara, keluarga, sahabat, dan masyarakat untuk membiasakan hidup sehat.

Salah satu cara saya dalam mengkampanyekan hidup sehat adalah dengan mengikuti lomba blog yang diadakan oleh Kemenkes RI minggu lalu. Sobat bisa baca tulisan saya di sini.

Tentu sobat juga memiliki cara tersendiri dalam mengkampanyekan hidup sehat. Yang terpenting adalah konsistensi kita untuk terus berupaya membiasakan dan mengkampanyekan hidup sehat.

3. Menjaga Lingkungan Alam, kondisi dunia saat ini bisa dikatakan berubah. Kekeringan melanda di beberapa daerah, dan keadaan cuaca yang sulit di prediksi, tingkat suhu dunia semakin meningkat akibat penebangan pohon secara liar. Menjaga lingkungan alam kita adalah salah satu peran kecil yang berefek besar dalam mewujudkan SDGs.

Menjaga lingkungan alam dengan membuang sampah pada tempatnya, menjaga laut dan pantai dari plastik, mengurangi pemakaian plastik,  mengurangi pembakaran sampah, mengajak keluarga dan orang lain untuk menjaga lingkungan alam merupakan peran kita sebagai milenial, karena kita memiliki semangat dan perhatian terhadap alam yang lebih tinggi dibandingkan dengan generasi yang lain.

4. Aktif dalam Kegiatan Sosial, permasalahan sosial sampai sekarang masih bisa dikatakan tinggi di negara kita, sebagai contoh masih banyaknya kemiskinan walaupun terjadi penurunan, masih banyaknya pengangguran, kriminalitas masih banyak terjadi, dan kesejahteraan masyarakat yang bisa diikatakan rendah. Kaum milenial seperti kita yang disinyalir memiliki kepekaan terhadap permasalahan sosial diharapkan dapat mengurangi atau mengatasi permasalahan-permasalahan di atas.

Berperan aktif dalam kegiatan sosial adalah sebuah cara yang bisa kita lakukan untuk membantu pemerintah mengurangi permasalahan sosial. Sebuah contoh ketika terjadinya bencana gempa di Lombok sobat bersedia menjadi relawan merupakan kontribusi yang luar biasa. Dengan trauma healing  saja sobat telah menyelamatkan mental generasi Indonesia, mental para anak-anak terkena gempa.

Ada masih banyak lagi kegiatan sosial yang bisa kita lakukan, salah satunya lagi dengan mengadakan penelitian sosial baik saat kita sedang kuliah atau diluar kuliah untuk mengidentifikasi permasalahan dan mendapatkan solusi terhadap permasalahan tersebut

5. Meningkat Kualitas Ibadah, ilmu dan badan yang sehat tentu akan berbahaya kalau tanpa adanya agama, agama tidak boleh dikesampingkan, di sinilah peran kita sebagai milenial, dengan meningkat kualitas ibadah kita kepada Tuhan Yang Maha Esa akan berefek sangat luar biasa pada lingkungan kita.

Menjaga toleransi dan menghargai perbedaan juga merupakan indikator kualitas ibadah kita, tanpa adanya persatuan maka akan sulit terwujudnya SDGs. Kaum milenial seperti kita yang disinyalir memiliki semangat dan tenaga yang lebih tinggi diharapkan mampu menjaga persatuan dan kesatuan Negara kita tercinta ini.


Jadi sobat, itulah beberapa peran kita sebagai milenial dalam menyukseskan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan / Sustainable Development Goals (SDGs) yang sangat diharapkan oleh pemerintah. Tanpa keterlibatan kita tidak mungkin TPB/SDGs bisa terwujud, oleh sebab itu, saya mengajak diri saya sendiri dan sobat untuk bersama-sama berperan dalam mewujudkan TPB/SDGs dengan meningkatkan kualitas diri kita baik itu kualitas pengetahuan, fisik, dan rohani kita.

Salam Perubahan...


Catatan:
Tulisan di atas diikutsertakan dalam Blog Competition dalam memeriahkan Unsyiah  Research Festival 2019

Gambar:
- koalisiperempuan.co.id
- freepik.com

Infografis:
- Lalu Teguh Jiwandanu


Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Tujuan_Pembangunan_Berkelanjutan
https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_negara_menurut_jumlah_penduduk
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2019/01/04/jumlah-penduduk-indonesia-2019-mencapai-267-juta-jiwa
https://www.wartaekonomi.co.id/read224647/literasi-indonesia-ranking-terbawah-kedua-di-dunia.html

0 Response to "Peran Milenial dalam Mewujudkan SDGs (Sustainable Development Goals) Yang Perlu Kamu Ketahui"

Post a Comment

Bagaimana tanggapan Anda mengenai ulasan di atas?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel