Berfikir Maju, Namun Melupakan Yang Tertinggal

"Berfikir maju, namun melupakan yang tertinggal", sebuah kalimat yang selalu terbayang dalam pikiran saya, berangkat maupun sepulang dari mengajar.

Beberapa tahun yang lalu, saya sangat senang sekali seorang menteri baru, muda, energik, dan tentu 'modern' telah menggantikan seorang menteri yang usianya tak lagi muda. Kini menteri baru tersebut menjabat 2 kementerian yang dilebur menjadi satu, yaitu Kemendikbud Ristek.

Mengkritik pemerintah adalah hal yang menurut saya suatu perbuatan yang sia-sia, melihat diri saya yang hanya seorang guru yang bertugas di salah satau sekolah pedalaman pulau Lombok. Berharap di dengar pemerintah daerah saja terasa mustahil, apalagi pemerintah pusat. 

Hari ini, tepatnya hari Kamis, 5 Agustus 2021 saya merasa bingung, terheran. Jalan aspal yang setiap hari saya lewati di aspal kembali. "Sepanjang Jalan Penujak". Waduh kok bisa? Padahal masih bagus, dan masih layak dilewati 3-5 tahun lagi. Heran terasa mau menangis.

Apakah di dalam perencanaan sebuah proyek negara (daerah atau pusat) tidak ada "asas prioritas" yang diterapkan?, baik saat perencanaan, diskusi, rapat atau apalah artinya? 

Jangan mengeluh dong Pak? Syukur-syukur dikasih kerja oleh negara?. Baik-baik, saya tidak pernah bermaksud mengeluh atau mengkritik pemerintah. Tulisan yang saya buat inipun, saya berharap setidaknya sedikit membantu pemerintah dalam menyukseskan program-program yang diemban sebagai tanggungjawab negara beralas sumpah atas nama agama.

Mas menteri ingin semua pembelajaran modern, semua pembelajaran diupayakan agar tekoneksi dengan jaringan dan teknologi. Pemerintah ingin kesejahteraan dan kesehatan masyarakat meningkat.

Ayo kita beranalogi sedikit. Misalkan, ada seorang Ibu dengan semangatnya "bekeinginan" bahwa anaknya yang baru lahir harus bisa lari saat berumur satu tahun. Apakah bisa? 

Kita semua juga berfikir maju, namun jangan lupakan kami yang tertinggal, jauh dari perkotaan, jauh dari tower jaringan, jalan rusak berbatu berlumpur dan terjal. Jauh dari puksemas, fasilitas umum dan lain-lain.

Sebelum berfikir maju, setidaknya lihatlah dulu apakah daerah yang tertinggal sudah siap? Kalau belum siap, siapkanlah dulu, ratakanlah dulu. Bangunlah kami dulu, daerah kami yang tertinggal ini. Kami bukan Jakarta yang sudah siap dengan semuanya. 

Apakah pembangun merata hanyalah sebuah wacana? Apakah "Jawasentris" masih terjadi? Saya percaya pemerintah lebih tau data yang ada. Semoga sistem pendidikan di negara kita menjadi lebih baik, kesehatan dan  kesejahteraan masyarakat meningkat. 

Salam, dari daerah yang tertinggal.






0 Response to "Berfikir Maju, Namun Melupakan Yang Tertinggal"

Post a Comment

Bagaimana tanggapan Anda mengenai ulasan di atas?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel