Apa Sebenarnya Arti Berbagi?


Di detik deadline waktu lomba ini, izinkan saya menceritakan pengalaman hidup saya. Saya berharap tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk pembacanya.

Nama saya Lalu Teguh Jiwandanu, saya seorang mahasiswa dari salah satu universitas negeri di NTB. Bisa dikatakan aneh, kenapa aneh?, saya lahir dari keluarga yang bisa dikatakan cukup, ayah saya seorang tukang bangunan. Selain membiayai kuliah saya, ayah saya juga bekerja untuk 3 saudara saya (adik-adik saya). Sangat aneh jika ayah saya bisa menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi (begitu kata tetangga). Sedangkan ibu saya hanyalah ibu rumah tangga yang sangat jago masak tempe goreng sambel kesukaan saya.

Ya, benar sekali, tidak ada sama sekali pemasukan kecuali berharap besar dari penghasilan ayah saya.

Sudah 4 tahun saya kuliah, saya tidak tau dimana orangtua saya mendapatkan uang, apakah dia berhutang pada tetangganya atau hasil kerjanya, saya tidak menanyakan hal itu, saya takut ayah saya marah kalau saya bertanya tentang itu.

Sempat ingin berhenti kuliah karena saya tidak mau merepotkan ayah saya. Sebelumnya nasib tidak mempertemukan saya dengan lulus di SNMPTN, SBMPTN atau Bidik Misi. Entah, apakah karena saya bodoh atau apa. Akhirnya saya "dipaksa" untuk masuk lewat jalur mandiri yang SPP jauh lebih mahal dari jalur masuk perguruan tinggi yang lain. Ayah saya memaksakan saya untuk saya kuliah, secara tidak langsung ia ingin menyatakan kepada saya, kalau saya harus lebih baik darinya.

Sebenarnya saya bukan anak pertama, saya anak kedua dari 5 bersaudara, kakak saya wanita, sehingga bukan ke kakak saya orangtua saya berharap besar, namun ke saya sendiri.

Beban itu yang saya rasakan sampai sekarang. Diotak saya seperti sudah ada kalimat "KAMU HARUS SUKSES, BANYAK SAUDARA" yang tertanam dan terlihat saat saya merenung dan memejamkan mata. Berat sekali...Luar biasa berat, saya lebih suka bekerja keras daripada berfikir keras. 

Namun, Alhamdulillah, di semester 4 sampai sekarang saya mendapatkan beasiswa PPA, yang hanya didapatkan oleh mahasiswa bodoh yang bersemangat untuk sukses. SPP untuk 4 semester yang tersisa saya tidak memberatkan orangtua saya karena sudah dibayar dengan beasiswa.

Saya ngontrak bersama teman saya, namanya Gunawan dan Zul. 
Saya, Zul, dan Gunawan 
Itu foto tahun 2016, saat masih ngontrak dengan mereka. Saya sekelas dengan Gunawan, sedangkan Zul kuliah di perguruan tinggi yang lain di Mataram. Alasan kami bertiga kontrak bersama adalah untuk hemat. Satu tahun sewa kos-kosan kami 2,7 juta, yang artinya masing-masing mengeluarkan 900 rb. Itulah strategi saya untuk hemat. Namun sekali lagi harga sewa menjamin kualitas.

Kamar seluas 3 x 4, dan WC bersama harus saya tempuh untuk kehidupan ini. Yah, kata motivator "Proses adalah Esensi, Hasil adalah Eksistensi", kalimat sederhana itulah yang mendewasakan saya untuk menjalani proses hidup sambil tersenyum.

Bisa nulis di blog ini juga merupkan proses hidup saya, saya tidak tahu sekarang sudah bisa ngeblog, ya blogger amatiran. Awal saya mengenal blog tahun 2015, ketika masuk semester satu, disana saya mencari tahu tentang cara mendapatkan uang lewat internet, dan salah satunya dengan blog. Selain itu, saya juga berjualan sate donat.

Sate Donat, salah satu usaha saya untuk mencari uang
Namun, karena ke-nekat-an saya, alhamdulillah semester 5 saya behenti jualan, bukan karena tidak laku, semester atas membuat saya sulit membagi waktu. Akhirnya saya berhenti dan tidak melanjutkannya sampai sekarang. Semua pekerjaan saya lakukan, pernah jualan pulsa dan bahkan pernah menawarkan diri sebagai tukang urut. Dulu saya sering pijit bapak saya, kebiasaan itu membuat saya sedikit bisa pijit orang lain. Namun sekali lagi semua tidak berjalan dengan harapan. Uang saya habis. 


Sama sekali habis, cuma tersisa 500 perak terselip dalam dompet, biasanya saya terkadang menemukan uang di saku celana saya, namun pada waktu itu uang saya benar-benar habis. Kebetulan besok hari kamis, saya memutuskan untuk berpuasa pada saat itu. Gunawan dan Zul pada saat itu pulang kamu (oh ya, Zul dan Gunawan itu bersepupu), sekali lagi ini bukan cerita dongeng, saya berbuka dengan bumbu mi yang saya dapatkan, karena kemarin saya mendapatkan 2 bumbu mi dalam satu kemasan.


Tidak enak sekali, saya mengira rasanya akan seperti mi, namun rasanya hambar. Waktu itu saya menangis, saya seperti jenuh, tenggelam dalam kesedihan dan kesendirian. Sulit sekali menceritakannya dengan kata-kata.

***



Rama
Namanya Lalu Muh. Ramadhana, sering dipanggil Rama, dulu satu SMA dengan dia, tapi beda jurusan, namun takdir menemukan saya dan dia di PT. Inilah kejadian yang merubah hidup saya dan mengajarkan arti berbagi, dulu cerita saya mengenai Rama pernah saya posting di blog saya dengan judul "SAKITMU BERMAKNA UNTUKKU"

Izin saya mengulas kembali sedikit cerita itu kembali,.

Jadi begini ceritanya. Sudah satu minggu Rama tidak masuk, saya sama sekali awalnya tidak tau dia kenapa. Tiba-tiba sekitar jam 10 malam saya menerima chat dari temannya dan memberitahukan saya kalau Rama sakit.

Pada saat itu saya langsung mengajak teman saya, ada Gunawan, Arjuna dan Iwan (alm). untuk menjenguk Rama. Benar sekali, Rama terkena tipes, badannya sangat kurus sekali.

Memang Rama orangnya pendiam sekali, dia sangat malu merepotkan orang lain. Namun pada saat itu saya marah, karena dia tidak kasih tau saya kalau dia sedang sakit.

Kehidupan Rama lebih dramatis dengan hidup saya, sekitar satu tahun lalu ayahnya meninggal dunia, dan meninggalkan dia, ibu beserta 3 saudaranya. Dia yang pendiam menjadi lebih pendiam lagi setelah kematian ayahnya, sering sakit-sakitan.

Bapaknya terkena infeksi di bagian kaki kanannya, sebuah ranting bambu tiba-tiba mengenai telapak kakinya, luka itu membuat ayahnya sakit-sakitan sampai meninggal dunia.

Ayahnya dan ibunya seorang petani. Namun bukan petani di sawahnya sendiri melainkan sawah orang lain. Dalam satu minggu Rama dikasih 50 - 70 ribu uang sakunya ke Mataram, rumahnya Rama berdekatan dengan Bandara Internasional Lombok (BIL). Jarak rumah dan kampus sekitar 1 jam perjalanan.

Kembali kecerita, malam itu Rama terbujur lemas di kamarnya, saya tanya dia sudah makan, namun katanya dia cuma punya uang 10 ribu, saya sempat periksa dompetnya atas izinnya dia sendiri, saya temukan didompetnya STNK yang sudah mati dengan kartu identitas dan uang 10 ribu itu.

Benar sekali, dia cuma punya uang 10 ribu, dan katanya dia belum makan, akhirnya saya bersama Gun, Arjuna dan Iwan (alm) bersama-sama mengumpulkan uang untuk membelikan nasi bungkus dan air minum serta obat-obatan.

Rama dan Saya
Dari kisah itulah merubah hidup saya, menyadarkan saya bahwa ada yang lebih merasakan kesedihan yang lebih dibandingkan dengan saya sendiri, kejadian itu menyadarkan saya bahwa saya tidak pandai bersyukur, dan sering mengeluh. Saya tidak tau apa yang akan terjadi jika saya dan teman-teman saya tidak berbagai untuk Rama, disitu saya merasakan pentingnya berbagai walau dalam keadaan sempit sekalipun. 

Allah memang benar dan tidak mungkin berbohong dengan firman-Nya, memang tidak dibayar spontan, tapi saya meyakini, beberapa minggu setelah kejadian itu, bapak saya mendapatkan proyek di sebuah Sekolah Dasar di Kota Praya Lombok Tengah yang ingin direnovasi, yang menurut saya balasan Allah untuk saya. 

Untuk teman-teman yang masih takut berbagi, yakinlah Allah pasti akan membalasmu, cepat maupun lambat. Menurut saya, berbagi itu selain menyadarkan kita merasakan keadaan saudara kita yang kurang berada, namun juga dapat memancing rezeki untuk datang.

Apalagi di zaman sekarang, berdonasi mudah bisa melalui kanal online Dompet Dhuafa. Yuk teman-teman jangan takut berbagi!, cari tahu arti berbagi versi kamu sendiri.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jangan Takut Berbagai Yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa.

#JanganTakutBerbagi #SayaBerbagiSayaBahagia

Yuk Jangan Takut Berbagi dan Kenali Dompet Dhuafa lebih dalam lagi di:

  • Twitter : dompet_dhuafa
  • Instagram : @dompet_dhuafa
  • Facebook : Dompet Dhuafa

2 Responses to "Apa Sebenarnya Arti Berbagi?"

Bagaimana tanggapan Anda mengenai ulasan di atas?

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel